Matahari & Bulan sebenarnya mengelilingi Bumi

Oleh : Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin

Dalil-dalil syariat secara lahir mengatakan bahwa matahari mengelilingi bumi, sehingga perputarannya itu menyebabkan terjadinya pergantian siang dan malam di muka bumi. Kita tidak bisa membantah makna lahir dari dalil-dalil tersebut kecuali dengan dalil yang lebih kuat, yang memungkinkan kita, menakwilkannya dengan takwil yang lebih kuat dari makna lahirnya. Di antara dalil-dalil yang menunjukkan bahwa matahari mengelilingi bumi sehingga menghasilkan pergantian malam dan siang itu adalah sebagai berikut:

1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang hujjah Ibrahim kepada orang yang menyanggah Tuhannya, “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, Maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”(Al-Baqorah:258)

2. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman tentang Ibrahim, ” Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, Dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, Dia berkata: “Hai kaumku, Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.”(Al-An’am :78)

Yang tenggelam adalah matahari bukan bumi, seandainya yang beredar adalah bumi tentu dikatakan bahwa ketika bumi tenggelam.

3. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ” Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang Luas dalam gua itu. itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, Maka Dialah yang mendapat petunjuk; dan Barangsiapa yang disesatkan-Nya, Maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.”(Al-Kahfi:17)

Menurut ayat ini yang condong dan bergeser adalah matahari, ini berarti bahwa mataharilah yang bergerak. Jika yang bergerak itu bumi tentu dikatakan, goa mereka bergeser darinya. Begitu juga terbit dan tenggelam disandarkan kepada matahari, ini menunjukkan bahwa seakan-akan mataharilah yang berkeliling, walaupun dalalahnya lebih rendah daripada dalalah firman Allah “condong” dan “bergeser”.

4. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.”(Al-Anbiya:33)

5. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam.”(Al-A’raf:54)

Dinyatakan bahwa malam meminta kepada siang dan peminta berarti yang datang berikutnya, padahal diketahui bersama bahwa malam dan siang, keduanya mengikuti matahari.

6. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. ingatlah Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”(az-Zumar:5)

Firman Allah,”Dia menutupkan malam atas siang” atau mengelilinginya seperti surban yang mengelilingi kepala. Ini menunjukkan bahwamalam dan siang itu mengelilingi bumi secara bergantian. Seandainya yang berkeliling itu bumi, tentu dikatakan,”menjadikan bumi mengelilingi malam dan siang.” Dalam firman Allah”masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan” menjelaskan pernyataan sebelumnya bahwa matahari dan bumi berjalan pada porosnya masing-masing, karena berjalanya sesuatu yang begerak dengan gerakannya lebih jelas daripada sesuatu yang berjalan di tempat tanpa gerak.

7. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,”Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya.”(Asy-syams:1-2)

Kata talaha (mengiringinya) berarti datang sesudahnya. Ini menunjukkan bahwa matahari dan bulan berjalan mengelilingi bumi. Seandainya bumi yang berputar mengelilingi keduanya, tidak mungkin bulan mengiringi matahari saja, tetapi kadang bulan akan mengelilingi matahari dan kadang mengelilingi bumi, karena matahari lebih tingi darinya. Berdalil dengan ayat ini memerlukan perenungan.

8. Lalu firman Allah, “Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui. dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah Dia sampai ke manzilah yang terakhir) Kembalilah Dia sebagai bentuk tandan yang tua.Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya.”(Yasiin:38-40)

Penyandaran kata “berjalan” kepada matahari dan perjalanannya telah ditetapkan waktunya oleh Allah ini menunjukkan bahwa matahari benar-benar berjalan dengan ketentuan yang canggih sehingga perjalanan itu menyebabkan adanya pergantian malam, siang dan musim. Menetapkan bagi bulan manzilah-manzilah menunjukkan atas perpindahannya. Seandainya yang berputar itu bumi, tentu manzilah-manzilah itu ditetapkan untuknya, bukan bulan. Ketidakmungkinan matahari mendapatkan bulan dan pergantian malam dan siang menunjukkan adanya gerakan yang terdorong dari matahari, bulan, malam dan siang.

9. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Diriwayatkan dari Abu Dzar Radhiyallahu Anhu berkata,’Suatu hari Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda,’Tahukah kamu ke mana matahari ini pergi?’Para sahabat menjawab,’Allah dan Rasulnya yang lebih mengetahui’. Lantas Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda,’Perjalanan matahari ini berakhir di suatu tempat yang telah ditetapkan di bawah ‘Arsy, lalu merebahkan diri untuk bersujud. Ia tetap berada dalam keadaan tersebut, sehinggalah diperintahkan kepadanya,’Bangunlah dan kembalilah ke tempat mana kamu datang.’Kemudian matahari kembali sehingga dia terbit dan berputar sebagaimana biasa. Matahari terus beredar lagi sehingga sampai di suatu tempat yang di tetapkan di bawah Arsy lalu merebahkan lagi dirinya untuk bersujud. Ia juga tetap berada dalam keadaan demikian hingga diperintahkan kepadanya,’Bangunlah dan kembalilah ke tempat mana kamu datang.’Matahari kembali lagi sehinggalah ia terbit dan berkeliling sebagaimana biasa tanpa diketahui oleh manusia dan berakhir pada tempat yang telah ditetapkan di bawah Arsy, lalu bersujud dan tetap dalam keadaan demikian, sehingga akhirnya diperintahkan kepadanya,’Bangunlah dan terbitlah di sebelah barat’. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam terus bersabda,’Tahukah kamu kapankah itu akan terjadi? Itu akan terjadi ketika tidak berfaidah lagi iman seseorang yang tidak beriman sebelumnya atau tidak berusaha mengerjakan kebaikan terhadap imannya’.”(Diriwayatkan Muttafaq Alaihi)

Sabda Rasulullah, “kembalilah ke tempat mana kamu datang, kemudian matahari kembali sehingga dia terbit” menunjukkan secara jelasbahwa matahari mengelilingi bumi yang meyebabkan matahari terbit dan tenggelam.

10. Masih banyak lagi hadits-hadits lain yang menunjukkan adanya penyandaran terbit dan tenggelam kepada matahari, sehingga mataharilah yang mengelilingi bumi, bukan bumi yang mengelilinginya.

Mungkin masih ada dalil-dalil lain yang belum saya ketahui, tetapi apa yang saya sebutkan itu, sudah cukup untuk membukakan pintunya dan sudah cukup untuk memenuhi apa yang saya maksudkan.

Sumber: Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin, Fatawa arkaanil Islam atau Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji, terj. Munirul Abidin, M.Ag. (Darul Falah 1426 H.), hlm. 39 – 44.

Advertisements

Bangga buat maksiat antara petanda dunia akhir zaman

Oleh Ustaz Zaman

2012/01/14

SETIAP individu mempunyai masa silam yang sudah dilalui sama ada baik atau buruk, dosa atau pahala yang diperoleh. Namun, perkara dosa yang telah dilakukan tidak perlu diungkit apatah lagi menyebarkan kepada orang lain kerana berbangga dengan maksiat itu.

Islam menganjurkan umatnya melupakan masa silam yang penuh kegelapan dengan bertaubat dan kembali ke pangkal jalan kerana semua manusia akan melalui kesilapan dalam perjalanan kehidupan mereka.
Sabda Baginda SAW: “Sesiapa yang menghadapi masalah ini (dosa lampau), maka hendaklah memohon supaya ditutup oleh Allah SWT.” (Hadis riwayat Malik dan Hakim)
Sabda Baginda SAW lagi: “Setiap anak Adam akan melakukan kesalahan dan sebaik-baik mereka ialah yang bertaubat.”

Kita hendaklah yakin dengan rahmat dan keampunan Allah SWT kerana kita sentiasa diberi peluang untuk berbuat demikian walaupun dalam keadaan genting.

Firman Allah SWT: “Dan apabila mereka melakukan perkara dosa atau menzalimi diri sendiri, lalu segera mengingati Allah dan bertaubat atas segala kesalahan mereka.” (Surah Al-Imran, ayat 135)

Sebuah hadis qudsi dari Baginda SAW yang bermaksud: “Allah bersabda: Wahai anak Adam, jika kamu banyak berdosa sehingga menjangkau langit sekalipun dosamu itu, lalu kamu memohon keampunan-Ku, nescaya akan Ku perkenankan.” (Hadis riwayat Tirmizi)
Daripada Umar, bahawa beliau sedang masuk kepada seorang Ansar yang sedang nazak dan di sisinya Baginda SAW. Baginda menyuruh dia bertaubat tetapi mulutnya sudah tidak dapat berkata-kata tetapi matanya mengarah ke langit seolah-olah menyahut seruan Baginda SAW. Lalu Umar melihat Baginda tersenyum dan Umar RA bertanya: Kenapa engkau tersenyum wahai Rasulullah? Baginda menjawab: “Pesakit ini tidak dapat bertutur tetapi memberi isyarat dengan matanya dengan hati yang tulus suci lalu beliau diampunkan.” (Durratul Majalis).

Janganlah sekali-kali kita sebarkan apa yang sudah terlanjur dalam kehidupan kerana ia akan menimbulkan fitnah dan seterusnya melunturkan semangat serta azam untuk maju pada masa depan. Perkara itu tidak perlu dibanggakan kerana soal maruah dan kehormatan menyerlahkan kelemahan.

Ingatlah bahawa berbangga dengan maksiat adalah satu dosa dan inilah fenomena yang akan berlaku ketika dunia berada di akhir zaman. Apa lagi perkara maksiat itu dilakukan secara terang-terangan dan dianggap perkara biasa dalam sesebuah masyarakat.

Inilah perkara dibimbangi Baginda SAW ketika datangnya peristiwa hampirnya kiamat yang membawa petanda demikian. Melakukan maksiat secara terang-terangan adalah salah satu petanda daripada tanda kiamat.

Baginda SAW berkata, keadaan itu kini sudah menular dalam kalangan masyarakat di mana kita dapati maksiat menjadi perkara biasa malah menjadi satu kebanggaan jika maksiat itu diketahui umum.

Kemajuan teknologi digunakan untuk merealisasikan penyebaran ini dengan merakam aksi panas untuk tatapan umum atau melalui e-mel, telefon dan lain-lain. Ini menjadi satu perkara biasa dalam masyarakat.

Sabda Baginda SAW bermaksud: “Ketika dunia berada hampir di penghujungnya, kamu dapati maksiat dilakukan secara terang terangan. Zina dilakukan dengan sewenang-wenangnya persis seperti perilaku haiwan. Yang tinggal hanyalah manusia yang keji dan buruk perangainya. Ketika itulah berlakunya kiamat.” (Hadis riwayat Muslim)

Islam adalah agama yang prihatin, menjaga serta berusaha menutup keburukan orang lain dalam mencari keredaan Allah SWT dan sentiasa berpegang kepada prinsip menjaga keaiban serta nasihat menasihati antara satu sama lain.

Mereka yang berusaha menutup keaiban orang lain akan mendapat anugerah terbaik di akhirat kelak di mana segala keburukannya akan ditutup oleh Allah SWT.

Sabda Baginda SAW: “Sesiapa yang menutup keaiban seseorang semasa di dunia, maka Allah SWT akan menutup keaibannya di akhirat.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

Ibnu Hajar berpendapat bahawa maksud hadis ini adalah berusaha menutup keaiban orang lain supaya tidak diketahui orang ramai. Sikap suka mencari keburukan orang lain dan menyebarkannya dengan tujuan buruk adalah perkara dibenci Allah SWT dan haram hukumnya di sisi agama Islam.

Daripada Nafi’ dan Ibnu Umar, Baginda SAW naik mimbar dan menyeru dengan suara yang lantang dalam sabda: “Wahai mereka yang mengaku dirinya beriman, janganlah kamu menyusahkan orang lain, janganlah kamu memalukan mereka serta berusaha mencari keburukan mereka serta menyebarkannya kerana Allah tidak akan melepaskan kamu dan keburukanmu akan terserlah walau di mana kamu berada.” (Hadis riwayat Tirmizi)

Penulis ialah Eksekutif Agama The New Straits Times Press (M) Bhd (NSTP)

 

Sumber: http://www.bharian.com.my/bharian/articles/Banggabuatmaksiatantarapetandaduniaakhirzaman/Article

Sejarah Kalendar

Asal usul kalendar
Oleh Rohaniza Idris
roha@bharian.com.my
2012/01/08
SETIAP tahun, apabila Disember ditinggalkan, muncul Januari yang menandakan bermulanya tahun baru. Semua ini sudah ditempuhi manusia sejak beratus-ratus tahun lalu iaitu apabila kalendar pertama wujud.

Namun, masih ramai yang tidak tahu sejarah dan perkembangan kalendar. Ini mungkin kerana topik ini bukanlah sesuatu yang penting untuk diambil tahu, lebih-lebih lagi penetapan tarikh adalah perkara rutin dalam kehidupan harian.
Sehubungan itu, sisipan RONA cuba mengimbau sejarah perkembangan kalendar dan peranannya dalam kehidupan manusia sempena kedatangan 2012.

Namun, sebelum memahami mengenai kalendar atau takwim ini, definisi kalendar itu perlu diketahui. Secara umumnya, kalendar atau takwim adalah satu sistem pengiraan masa menggunakan hari dan bulan.

Tarikh sesuatu hari itu biasanya ditentukan berpandukan kepada objek astronomi seperti matahari atau bulan. Takwim juga adalah satu objek nyata yang menjelaskan sistem itu.

Takwim atau kalendar boleh dibahagikan mengikut objek astronomi Kalendar Suria (Solar), Kalendar Qamari atau Lunar (Bulan) serta Kalendar Lunisolar (bulan dan matahari). Kalendar Suria adalah berpandukan matahari semata-mata, iaitu mengikut perubahan musim. Contohnya, Kalendar Gregorian dan Kalendar Julian.
Kalendar Lunar atau Qamari berpandukan bulan semata-mata iaitu mengikut fasa bulan. Contohnya ialah Takwim Hijrah manakala Kalendar Lunisolar pula mengikut kedua-dua bulan dan matahari – contohnya Kalendar Cina.

Dilaporkan, kalendar pertama yang wujud di dunia ini adalah kira-kira 4,000 tahun Sebelum Masihi oleh masyarakat Mesir purba. Orang-orang Mesir purba menggunakan kalendar dengan 12 bulan 30 hari, untuk jumlah 360 hari untuk setiap tahun dicampur lima hari tambahan pada akhir tahun. Manakala minggu bagi setiap bulan adalah tiga minggu sepuluh hari.

Penentuan kalendar Mesir ini berdasarkan kiraan tahun solar iaitu 3,651/4 hari, namun tidak mempunyai hari lompat setiap empat tahun untuk mengambil kira hari pecahan (cara yang kita lakukan sekarang dalam kalendar Gregorian), mereka membiarkan hari satu perempat terkumpul.

Bermaksud, ada tahun yang mempunyai hari yang lebih berbanding tahun yang lain mengikut pilihan mereka. Mereka tidak meletakkan Hari Lompat pada bulan tertentu, sebaliknya dipilih dalam mana-mana bulan yang disukai dengan syarat setiap empat tahun sekali.

Dalam sistem kalendar kini, hampir semua negara mengikut kaedah sama iaitu merujuk kepada kalendar Gregorian yang diubah berdasarkan kalendar Julian yang mana 97 tahun daripada setiap 400 tahun menyelitkan 29 hari pada Februari.

Jika ditanya kaedah atau kalendar mana paling sempurna, setiap satu mempunyai perbezaan mengikut saat, minit, jam atau hari. Malah dikatakan Gregorian yang digunakan secara meluas memerlukan perubahan dalam tempoh beberapa ratus tahun akan datang.

Kalendar Gregorian

TAHUN Gregorian bermula pada 1 Januari dan berakhir pada 31 Disember. Tahun Gregorian ada 365 hari pada tahun biasa dan 366 hari dalam tahun lompat yang memberi panjang purata 365,2425 hari.

Ini adalah sangat dekat dengan purata 76 tahun kalendar Islam (berdasarkan masa purata antara ekuinoks musim bunga berturut-turut yang kini 365,2424 hari dan meningkat sedikit).

Kalendar Gregorian ini dicadangkan oleh doktor Aloysius Lilius, dari Napoli, Itali dan kemudian mula digunakan Pope Gregory XIII pada 24 Februari 1582. Kalendar ini dicipta kerana Kalendar Julian dinilai kurang tepat, berikutan permulaan musim bunga lebih awal bukan lagi 21 Mac seperti yang dipraktikkan.

Pada awalnya, tidak semua negara mahu menggunakan kalendar ini. Britain mula menerima pakai kalendar ini pada 25 Mac 1752 manakala Russia menggunakannya pada 1918.

Kalendar Islam

KALENDAR Islam atau dikenali sebagai takwim Hijrah atau Takwim Islam pula adalah Kalendar Lunar digunakan di kebanyakan negara Islam untuk menentukan hari kebesaran Islam.

Kalendar ini berdasarkan bulan dan mempunyai kira-kira 354 hari setahun. Dalam takwim Hijrah, ada 12 bulan iaitu Muharam, Safar, Rabiulawal, Rabiulakhir, Jamadilawal, Jamadilakhir, Rejab, Syaaban, Ramadan, Syawal, Zulkaedah dan Zulhijah. Setiap bulan mengandungi 29 atau 30 hari, tetapi lazimnya tidak dalam turutan yang tetap.

Secara tradisinya, hari pertama setiap bulan akan bermula selepas anak bulan (hilal) kelihatan ketika matahari terbenam. Jika hilal tidak kelihatan selepas 29 hari pada bulan itu, sama ada dilindungi awan atau langit di ufuk barat terlalu terang apabila bulan terbenam, maka, hari itu dikira sebagai hari yang ke-30. Pencerapan atau rukyah itu haruslah dilakukan oleh orang yang dipercayai dan dan mengakuinya di hadapan pemimpin negara.

Dikatakan bahawa orang yang mula-mula menamakan bulan-bulan ini ialah Kab ibn Murrah, datuk kelima Rasullullah SAW. Peristiwa ketika pemerintahan Khalifah Umar al-Khattab adalah titik tolak perubahan takwim hijrah yang mana Khalifah Umar mengumpulkan beberapa orang sahabat pada hari Rabu 20 Jamadilakhir tahun 17 Hijrah bagi menentukan tarikh yang patut diambil sebagai permulaan tahun Islam.

Dalam perbincangan itu, pendapat ‘Ali ibn Abi Talib diterima dengan mengemukakan cadangan supaya menjadikan Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah sebagai permulaan tahun Islam. Mereka juga bersetuju dengan pandangan Uthman menjadikan Muharam sebagai bulan pertama dalam sejarah Islam.

Orang Arab menganggap permulaan hari ialah selepas jatuh matahari dan berterusan sehingga jatuh matahari berikutnya, oleh itu malam mendahului siang. Tetapi hari menurut syarak yang diberi definisi oleh fuqaha’ dimulai dengan terbit fajar sadiq sehingga jatuh matahari. Pada zaman sekarang, menurut orang Eropah, hari dimulai pada tengah malam dan berterusan sehingga tengah malam berikutnya.

Kalendar Cina

KALENDAR Cina pula mengikut kalendar lunisolar, iaitu sama jenis dengan takwim Ibrani dan kalendar Hindu, yang menggabungkan unsur takwim qamari dengan kalendar solar.

Di negara China sekarang, kalendar Gregorian digunakan untuk kebanyakan kegiatan harian, namun kalendar Cina masih digunakan untuk menanda perayaan orang Cina tradisi seperti Tahun Baru Cina, perayaan Duan Wu dan Perayaan Kuih Bulan.

Sesetengah masyarakat Cina di seluruh dunia percaya dalam bidang astrologi. Mereka menggunakan kalendar ini untuk memilih tarikh sesuai melangsungkan perkahwinan atau merasmikan pembukaan bangunan baru.

Oleh kerana setiap bulan mengikuti satu kitaran bulan, kalendar ini juga digunakan untuk menentukan fasa kitaran bulan. Di China, kalendar tradisional ini dikenali sebagai ‘kalendar pertanian’ manakala kalendar Gregorian dikenali sebagai ‘kalendar umum’ atau ‘kalendar Barat’.

Kalendar Julian

KALENDAR Julian diperkenalkan pada tahun 46 SM oleh Julius Caesar dan mula digunakan pada tahun 45 SM. Kalendar ini dipilih selepas perundingan dengan ahli astronomi Sosigenes dari Iskandariah. Ia direka bentuk hampir menyamai tahun tropika yang digunakan sejak zaman Hipparchus lagi.

Tahun Julian merangkumi 365 hari yang dibahagikan kepada 12 bulan dengan satu hari lompat ditambah pada bulan Februari setiap empat tahun. Oleh itu, tahun Julian mempunyai 365.25 hari setiap tahun pada puratanya.

Kalendar ini masih digunakan dalam abad ke-20 di sesetengah negara dan masih terus digunakan oleh kebanyakan gereja Ortodoks hingga hari ini. Kalendar ini digantikan dengan kalendar Gregorian kerana terlalu banyak tarikh lompat yang menyebabkan kekeliruan.
INFO

Orang Arab menamakan lima bulan dengan nama musim walaupun ia tidak lagi tepat seperti dialami sekarang. Contohnya, Ramadan yang berasal daripada al-Ramada’ bermaksud sangat panas, tidak selalunya jatuh pada musim panas. Begitu juga dua Jamad (Jamadilula/Jamadilawal dan Jamadilakhir) tidak selalunya jatuh pada musim sejuk walaupun Jamad bermaksud beku.

Muharam pula dinamakan demikian kerana salah satu bulan yang diharamkan berperang. Manakala Safar pula ertinya kosong, kerana isi negeri menjadi kosong disebabkan penduduknya keluar berperang selepas Muharam.

Rabiulawal dan Rabiulakhir dinamakan demikian kerana kedua-duanya jatuh pada musim bunga (Rabi’) waktu nama itu diberikan. Rejab pula ertinya bulan yang dihormati kerana mereka menghormatinya dengan meninggalkan peperangan. Sehubungan itu, ia termasuk di dalam salah satu bulan haram.

Syaaban (bercabang) pula mendapat namanya kerana kabilah-kabilah Arab berpecah dan bercabang untuk berperang selepas duduk diam pada bulan Rejab. Dinamakan bulan Syawal kerana pada bulan itu unta mengangkat ekornya kerana hendak mengawan, berasal daripada akar kata syala (mengangkat).

Zulkaedah ertinya duduk, iaitu bulan yang mereka duduk di rumah tanpa peperangan. Zulhijjah pula diambil namanya daripada perkataan hajj (bulan Haji).

Perbezaan jarak antara tahun Hijrah dengan tahun Masihi ialah 622 tahun, tetapi jarak perbezaan ini semakin berkurangan sedikit demi sedikit. Ini kerana setahun Hijrah qamariyah mengandungi 354 hari, 8 jam, 48 minit, dan 36 saat. Sedangkan setahun Masihi shamsiyah mengandungi 365 hari, 6 jam, 9 minit dan 9.5 saat dan perbezaan keduanya ialah 10, 11 atau 12 hari dalam setahun, iaitu terpulang sama ada salah satu atau kedua-duanya tahun kabisah. Dengan kiraan ini jelaslah bahawa setiap 33 tahun Hijriyah lebih kurang sama dengan 32 tahun Masihi. Oleh itu tahun Hijrah dan tahun Masihi akan bertemu atau sama harinya pada setiap lebih kurang 33 tahun sekali.
Kalendar sudah pupus

Kalendar Aztec

Takwim Maya

Takwim Positivist

Kalendar Gregorian pertama kali digunakan di Itali, Poland, Portugal dan Sepanyol pada 1582.

Kalendar Gregorian mempunyai pusingan 400 tahun dan menariknya 29 Februari 2008 jatuh pada Jumaat, hari sama pada 29 Februari 2408.

Orang Arab sebelum Islam menggunakan tahun Qamariyah sejak zaman dulu. Namun, mereka hanya merekodkan peristiwa-peristiwa penting yang berlaku pada masa itu. Umpamanya, tarikh pembinaan Kaabah pada zaman Nabi Ibrahim dan Isma’il pada 1855 SM. Manakala tahun Gajah iaitu tahun yang paling masyhur bersamaan dengan tahun 571 M.

Selepas wujudnya negara Islam, tahun Qamariyah masih diteruskan tetapi tidak ditetapkan tahun-tahunnya. Oleh itu, kaum muslimin memberi nama tahun-tahun itu dengan nama peristiwa besar yang terjadi. Antaranya ialah tahun pertama (Tahun al-Izn) iaitu izin hijrah dari Makkah ke Madinah, tahun kedua (Tahun al-Amr) iaitu tahun diperintahkan memerangi kaum musyrikin. Akhirnya tahun kesepuluh yang dikenali sebagai tahun al-Wada’ iaitu tahun haji al-Wada’ atau haji terakhir yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.

 

Sumber: http://www.bharian.com.my/bharian/articles/Asalusulkalendar/Article/index

Pendidikan berorientasi tarbiah bentuk manusia berhemah

Di tulis oleh Ustaz Zamanuddin Jusoh
http://www.bharian.com.my/bharian/articles/Pendidikanberorientasitarbiahbentukmanusiaberhemah/Article
2011/11/19

SALAH satu ciri keunikan Islam ialah membentuk manusia dengan cara berhemah, penuh hikmah dan pengajaran berorientasikan tarbiah yang sempurna mengikut kemampuan manusia.

Firman Allah SWT yang bermaksud: “Allah tidak akan membebani seseorang melainkan mengikut kemampuannya.” (Surah Al-Baqarah, ayat 286)
Peristiwa yang berlaku kepada Sayyidah Zainab mengajar kita sejak zaman sebelum kedatangan Islam, pengambilan anak angkat menjadi kebiasaan. Mereka menjadikan anak itu sebagai salah seorang daripada keluarga seterusnya dianugerahkan nasab keturunan serta menyamakannya dengan ahli keluarga lain.
Anak itu mendapat keistimewaan yang sama, batas pergaulan serta sempadan pergaulan dengan ahli keluarga tidak diendahkan sedangkan hakikatnya tidak begitu.

Tatkala Allah SWT menginginkan perubahan terhadap pengambilan anak angkat dengan cara yang terbaik mengikut fitrah manusia, Allah SWT memilih Sayyidah Zainab Binti Jahsh sebagai perintis kepada proses peralihan itu.

Melalui wahyu Ilahi, Baginda memilih Zainab untuk dijodohkan dengan Zaid Bin Haritsah yang juga anak angkat kepada Baginda.

Zainab menerima keputusan Baginda selepas turunnya ayat yang bermaksud: “Tidak wajar bagi lelaki atau wanita yang beriman apabila Allah SWT sudah menetapkan sesuatu ketetapan lalu mereka membuat pilihan yang lain.” (Surah Al-Ahzab, ayat 36)
Namun demikian, berlaku ketentuan Allah dengan hikmahnya yang tersendiri sehingga mereka berpisah dan Zainab dikahwini oleh Baginda. Dengan peristiwa ini, maka lenyap kisah pengambilan dan anggapan terhadap anak angkat dengan cara yang cukup berhemah.

Firman Allah SWT yang bermaksud: “Muhammad itu bukanlah bapa kepada salah seorang dari kamu (Zaid), tetapi Dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah maha mengetahui segala-galanya.” (Surah Al-Ahzab, ayat 40)

Dapat dilihat di sini, anak angkat adalah orang yang asing bagi sesebuah keluarga sehingga isteri mereka dapat dikahwini oleh ayahnya sendiri, pergaulan dengan keluarga lain terbatas dan keluarga lain sebenarnya halal dikahwini oleh anak itu.

Ini hikmah yang tidak dapat dilihat oleh setengah manusia sehingga menganggap Baginda memonopoli segala-galanya sehingga mengambil isteri kepada anaknya sendiri (Zaid).

Begitu juga dalam proses pengharaman arak yang menjadi sebahagian adat jahiliah sekian lama. Arak menjadi minuman asasi bagi masyarakat pada masa itu sehingga ada antara sahabat sendiri mengumpulkan bekalan banyak ketika mereka belum memeluk Islam.

Selepas mereka dapat menerima Islam, Allah SWT dengan kebijaksanaan-Nya mengikut fitrah manusia menurunkan wahyu yang bermaksud: “Wahai orang beriman, janganlah kamu menghampiri solat ketika kamu mabuk sehinggalah kamu sedar apa yang kamu ucapkan.” (Surah An-Nisa’, ayat 43).

Menunjukkan mereka boleh mengambil arak tetapi mestilah menjauhi diri dari solat. Setelah sedikit demi sedikit sahabat dapat mengurangkan pengambilan arak, maka Allah SWT menurunkan wahyu berikutnya yang bermaksud: “Sesungguhnya minuman keras, berjudi, bertenung nasib adalah perkara keji dari amalan syaitan.” (Surah Al-Maidah, ayat 90)

Semua sahabat pada ketika itu dapat menerima hakikat ini dan meninggalkan minuman keras buat selama-lamanya. Ada yang pulang ke rumah dan memusnahkan segala simpanan arak mereka demi menyahut seruan Allah SWT.

Kempen menjauhi minuman keras adalah salah satu cara terbaik bagi mendidik masyarakat menjauhi minuman yang merosakkan ini kerana banyak perkara jenayah berlaku akibat pengambilan minuman memabukkan ini sebagai punca segala kejahatan.

Sabda Baginda yang bermaksud: “Sesungguhnya arak adalah ibu segala kejahatan.” Manusia akan melakukan apa saja ketika sedang mabuk. Tidak hairanlah kadar jenayah semakin bertambah kerana kesan minuman keras.

Usaha keras dan serius perlu dilakukan bagi menjayakan kempen ini kerana banyak halangan dan rintangan terpaksa dilalui termasuk pengaruh iklan dan kempen minuman ini amat kuat dalam masyarakat Islam. Apa yang penting ialah komitmen semua pihak untuk lebih dekat kepada masyarakat bagi menjayakan misi murni ini.

Ustaz Zamanuddin Jusoh ialah Eksekutif Agama The New Straits Times Press (NSTP)

Konflik berterusan boleh halang kecemerlangan kerja

Di tulis oleh Sharifah Hayaati
http://www.bharian.com.my/bharian/articles/Konflikberterusanbolehhalangkecemerlangankerja/Article
2011/11/19

Perselisihan faham cetus perdebatan perlu dikawal

KITA sering berdepan pelbagai cabaran serta konflik dalam usaha mencapai kepuasan dan kecemerlangan kerja. Ibarat menuju satu destinasi, jalan dilalui ada yang lebar dan sempit, ada yang lurus dan berliku, menaiki dan menuruni bukit serta curam, indah pemandangan dan sebaliknya.
Begitu persekitaran kerja dalam mencapai destinasi kecemerlangan. Malah, salah satu faktor yang boleh menghalang kecemerlangan organisasi adalah konflik berterusan yang tidak diurus atau ditangani dengan baik.
Konflik daripada bahasa Latin ‘confligere’, bermaksud perselisihan atau pertentangan antara individu. Ia berlaku disebabkan pelbagai faktor perbezaan sama ada pemikiran, peranan, tanggungjawab, akhlak atau cara bertindak dan hasrat yang ingin dicapai.

Termasuk perbezaan pandangan, persepsi, pemahaman, pengetahuan, pendirian, pengalaman, ideologi, keinginan, matlamat, sifat atau sikap yang membentuk perbezaan peribadi dan tabiat. Dalam organisasi, konflik boleh berlaku sesama staf, dengan subordinat atau pengurusan atasan.

Konflik berlaku disebabkan rasa tidak puas hati terhadap sesuatu keputusan, arahan kerja, gaya komunikasi, agihan tugas, sempadan tanggungjawab atau bidang kuasa, perubahan matlamat, peraturan, pertindihan tugas dan perebutan ganjaran yang terhad.

Kepelbagaian ini dengan mudah menjuruskan individu kepada konflik yang jika berlarutan mampu mengundang perbalahan, permusuhan dan mengakibatkan pelbagai salah laku pentadbiran seperti ketidakcekapan, ketidaktelusan yang merugikan seluruh organisasi.
Islam mengakui perbezaan suatu tabii dan mempunyai hikmah dari rahmat Allah.
Firman Allah yang bermaksud: “Kalau Tuhanmu menghendaki, tentulah Dia menjadikan kamu umat yang satu. (Tetapi Dia tidak berbuat demikian) dan kerana itu mereka terus menerus berselisihan. Kecuali orang yang telah diberi rahmat oleh Tuhanmu, untuk itu Allah menjadikan manusia dan dengan demikian sempurna janji Tuhanmu.” (Surah Hud, ayat 118-119)

Menurut Dr Taha Jabir al-Alwani, perbezaan yang membawa kepada perselisihan terkandung dalam pelbagai istilah seperti al-khilaf (perbezaan pendapat), al-Khusumah (permusuhan atau perbalahan) dan al-Jidal (perdebatan).

Prinsip akhlak membenci perbezaan membawa kepada konflik permusuhan dan perbalahan berpanjangan yang melemahkan serta meragut kekuatan dinamakan Profesor Dr Yusof al-Qaradhawi sebagai perbezaan atau kepelbagaian pertentangan.

Khususnya dalam masalah kecil dan sampingan atau hukum furu’ kerana Islam menganjurkan sifat saling menghormati serta menghargai.

Firman Allah yang bermaksud: “Dan taat kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan jangan kamu berbantah-bantah yang menyebabkan kamu menjadi lemah dan hilang kekuatan dan bersabar (menghadapi segala kesukaran dengan cekal hati).
Sesungguhnya Allah berserta orang yang sabar.” (Surah al-Anfal, ayat 46)

Apabila perbezaan dapat diurus dengan baik dan berkesan, ia akan memberi banyak manfaat. Menurut Profesor al-Qaradhawi, perselisihan memberi kesempatan dan ruang untuk memilih pandangan yang baik, tepat serta berijtihad.

Konflik sifatnya provokatif dan menarik tindak balas orang ramai untuk memberi pandangan. Kehangatan konflik merangsang individu berfikir dan mencari idea alternatif. Tetapi perlu dikawal dan dikendalikan dengan berhemah supaya tidak mencetuskan perdebatan tidak sihat serta menjejaskan integriti staf.

Menghadapi konflik, kita perlulah terlebih dulu mengesan puncanya. Dari situlah beberapa langkah penyelesaian diusahakan. Antara panduan menguruskan konflik di tempat kerja ialah menyemarakkan kesedaran dan sistem bekerja secara berpasukan berpandukan matlamat organisasi.

Kedua, bagi konflik yang dicetuskan faktor peribadi seperti ego, bangga diri, salah sangka terhadap staf lain, tuduhan atau kenyataan tanpa asas dan bukti, berfikiran sempit serta fanatik, maka perlu diingatkan untuk kembali kepada asas akhlak.

Langkah mengukuhkan penerapan nilai teras seperti ikhlas, jujur, amanah, toleransi, hormat menghormati, mengamalkan kesederhanaan, muafakat, keterbukaan dan positif minda dalam organisasi perlu diberi keutamaan.

Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: “Jauhilah kamu dari prasangka kerana ia kata-kata dusta. Jangan saling mencurigai, menghasut, iri hati dan saling membenci. Dan jadi kamu hamba Allah yang bersaudara.” (Hadis riwayat Bukhari)

Ketiga, membina semangat setia kawan bertujuan mengeratkan silaturahim dalam organisasi.

Keempat, menyediakan ruang atau sistem maklum balas kualiti menyampaikan pandangan atau ketidakpuasan hati secara berhemah serta merapatkan jurang komunikasi.

Kelima, menyediakan khidmat pakar atau kaunseling dan keenam, tindakan disiplin bersesuaian dengan peraturan seperti memberi amaran, mengeluarkan surat peringatan, menggantung kenaikan dan sebagainya.

Tujuannya adalah menjaga kepentingan umum dan menolak kemudaratan supaya matlamat organisasi tercapai dalam suasana harmoni.

Kaedah masyhur Sheikh Muhammad Rasyid Ridha yang turut dipersetujui Imam Hassan al-Banna boleh dijadikan panduan berorganisasi iaitu, bekerjasama dalam masalah yang sudah disepakati dan saling bertolak ansur dalam masalah yang diperselisihkan.

Sharifah Hayaati ialah pensyarah di Jabatan Siasah Syar’iyyah, Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaya

Tebus talak imbangi kuasa suami, pertahan hak isteri

Oleh Mohamad Isa Abd Ralip

http://www.bharian.com.my (2011/11/09)

Nilaian bukan wang saja, boleh dalam bentuk harta atau manfaat bernilai dengan mahar

PERCERAIAN bukanlah satu perkara yang menarik untuk dibincangkan, lebih-lebih lagi bagi pasangan yang baru saja mendirikan rumah tangga. Walau bagaimanapun, perceraian menjadi isu utama dibicarakan di Mahkamah Syariah.

Ada sebab mengapa pasangan mengambil keputusan untuk bercerai dan pembubaran perkahwinan itu boleh berlaku dalam pelbagai cara seperti jatuhnya talak dengan cara baik, melalui fasakh, taklik atau tebus talak.

Malangnya, ramai tidak memahami perceraian tebus talak atau khuluk yang membabitkan permintaan isteri untuk diceraikan dengan cara menebus hak talak daripada suami dan isteri akan membayar mengikut jumlah dipersetujui. Dalam kata lain, isteri membeli talak dari suami.

Tebus talak terjadi disebabkan kedua-dua pihak khuatir tidak dapat melaksanakan tanggungjawab dalam perkahwinan. Bagaimanapun, tebus talak hanya boleh berlaku dengan adanya alasan munasabah serta bukti yang kukuh.

Dari segi amalan perundangan di Mahkamah Syariah di negara ini, kebiasaannya permohonan perceraian dilakukan pihak isteri melalui permohonan bercerai dengan cara baik contohnya mengikut Seksyen 47 Enakmen Undang-undang Keluarga Islam (Negeri Selangor) 2003. Jika suami tidak bersetuju untuk menceraikan isterinya, maka tawaran tebus talak boleh dilakukan terhadap suami ataupun tawaran oleh pihak suami kepada isteri.

Jika suami tidak bersetuju, kes akan dirujuk kepada jawatankuasa pendamai mengikut Seksyen 47 (5) Enakmen Undang-undang Keluarga Islam (Negeri Selangor) 2003.

Jika suami bersetuju untuk melepaskan isteri melalui tebus talak yang ditawarkan, maka perceraian akan melalui proses biasa dan direkodkan perceraian secara tebus talak mengikut Seksyen 49 (2) Enakmen Enakmen Undang-undang Keluarga Islam (Negeri Selangor) 2003. Mungkin ada yang tertanya berapakah jumlah bayaran tebus talak yang sewajarnya bagi pasangan bersetuju untuk bercerai secara tebus talak. Merujuk Seksyen 49 (3) Enakmen Undang-undang Keluarga Islam (Negeri Selangor) 2003, mahkamah mempunyai kuasa untuk menentukan jumlah bayaran tebus talak mengikut hukum syarak, taraf pihak-pihak serta sumber kewangan mereka setelah melalui perbicaraan yang sewajarnya.

Contohnya, kes Talib lwn Sepiah, suami enggan menceraikan isteri walaupun dengan cara tebus talak. Oleh itu, mahkamah memutuskan kes itu dirujuk kepada pihak hakam malangnya selepas perbincangan serta rundingan, hakam gagal menyelesaikan kes itu. Hanya selepas perlantikan hakam kali kedua, suami bersetuju menceraikan isteri secara tebus talak sebanyak RM100,000.

Nilaian tebus talak bukan berdasarkan kepada wang semata-mata, nilaian tebus talak boleh juga dalam bentuk harta atau manfaat bernilai dengan mahar (mas kahwin) sama ada banyak mahupun sedikit. Namun, perlu ditekankan bahawa menjadi sunat kepada lelaki untuk mengambil tidak lebih daripada mahar (mas kahwin) yang diberikan kepada isteri mengikut beberapa pandangan ulama. Tebus talak boleh berlaku pada bila-bila masa walaupun ketika isteri dalam haid, berbeza dengan talak biasa yang memerlukan isteri berada dalam keadaan suci ketika lafaz talak dilakukan. Perceraian secara tebus talak tidak boleh dirujuk kerana dikira sebagai talak bain dan jika pasangan ini ingin bersama semula, mereka perlu akad nikah semula bagi menghilangkan kemudaratan yang berlaku pada tempoh perkahwinan itu.

Jika tebus talak dijatuhkan kepada talak raji’e yang boleh dirujuk, berkemungkinan suami boleh merujuk isteri dalam tempoh edah dengan tujuan memudaratkan isterinya. Tebus talak yang diberikan kepada isteri adalah sebagai mengimbangi kuasa talak yang ada pada lelaki. Jika lelaki tidak menyukai isterinya maka boleh digunakan talak bagi melepaskan isterinya dan sebaliknya jika isteri tidak menyukai suaminya, maka boleh digunakan tebus talak. Oleh itu, wanita khususnya pihak isteri seharusnya mengetahui hak mereka kerana perceraian tidak bergantung kepada lafaz talak oleh suami malah Islam juga memberi ruang kepada isteri untuk membubarkan perkahwinan melalui cara lain dan salah satunya adalah melalui tebus talak. Pihak lelaki juga seharusnya tidak bertindak zalim dengan meletakkan bayaran tinggi sebagai syarat kepada isteri melepaskan diri daripada ikatan perkahwinan.

Ini bersesuaian dengan firman Allah yang bermaksud: “Dan jika kamu hendak mengambil isteri (baru) menggantikan isteri (lama yang kamu ceraikan) sedangkan kamu telahpun memberikan kepada seseorang di antara (isteri yang diceraikan itu) harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil sedikitpun dari harta itu. Patutkah kamu mengambilnya dengan cara yang tidak benar dan (yang menyebabkan) dosa yang nyata? Dan bagaimana kamu tergamak mengambil balik pemberian itu padahal kasih mesra kamu telah terjalin antara satu dengan yang lain dan mereka pula (isteri-isteri kamu itu) telahpun mengambil perjanjian yang kuat daripada kamu?” (Surah al-Nisa’, ayat 20-21)

Jadual Berbuka Puasa Kawasan Kuala Lumpur 2011

Jadual Berbuka Puasa Untuk Kuala Lumpur

Download Jadual Buka Puasa & Waktu Solat Kuala Lumpur 2011

Hadith 1

Abu Hurairah ra. meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW bersabdaUmatku telah dikurniakan dengan lima perkara yang istimewa yang belum pernah diberikan kepada sesiapa pun sebelum mereka. Bau mulut daripada seorang Islam yang berpuasa adalah terlebih harum di sisi Allah daripada bau haruman kasturi. Ikan-ikan di lautan memohon istighfar (keampunan) ke atas mereka sehinggalah mereka berbuka puasa”.

Allah mempersiapkan serta menghiasi jannah yang khas setiap hari dan kemudian berfirman kepadanya: Masanya telah hampir tiba bilamana hamba-hambaKu yang taat akan meninggalkan segala halangan-halangan yang besar (di dunia) dan akan mendatangimu.”

Pada bulan ini syaitan-syaitan yang durjana dirantaikan supaya tidak menggoda mereka ke arah maksiat-maksiat yang biasa mereka lakukan pada bulan-bulan selain Ramadhan. Pada malam terakhir Ramadhan (orang-orang yang berpuasa ini) akan diampunkan.” Maka sahabat-sahabat Rasulullah SAW pun bertanya: “Wahai Pesuruh Allah, adakah itu malam lailatul Qadar?” Dijawab oleh Rasulullah SAW: “Tidak, tetapi selayaknya seorang yang beramal itu diberi balasan setelah menyempurnakan tugasnya.”

Hadith 2

Ubadah Bin Somit ra. meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW bersabda pada suatu hari ketika Ramadhan hampir menjelang: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, di mana Allah melimpah ruahkan di dalamnya dengan keberkatan, menurunkan rahmat, mengampuni dosa-dosa kamu, memakbulkan doa-doa kamu, melihat di atas perlumbaan kamu untuk memperolehi kebaikan yang besar dan berbangga mengenaimu di hadapan malaikat-malaikat. Maka tunjukkanlah kepada Allah Taala kebaikan dari kamu. Sesungguhnya orang yang bernasib malang ialah dia yang dinafikan daripada rahmat Allah pada bulan ini.

Hadith 3

Abu Sa’id Al Khudri ra. meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW bersabda: “Setiap hari siang dan malam pada bulan Ramadhan, Allah Tabaraka wa Taala membebaskan begitu banyak sekali roh daripada api neraka. Dan pada setiap orang Islam pada setiap hari siang dan malam doanya pasti akan diterima.”

Hadith 4

Abu Hurairah ra. meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW bersabda: “Terdapat tiga jenis orang yang doa mereka tidak ditolak; doa daripada orang yang berpuasa sehinggalah dia berbuka puasa; imam (penguasa) yang adil, dan orang yang dizalimi yang kerana doanya itu Allah mengangkatnya melepasi awan dan membuka untuknya pintu-pintu langit dan Allah berfirman: “Daku bersumpah demi kemuliaanKu, sesungguhnya Daku pasti menolongmu walaupun pada suatu masa nanti.

Hadith 5

Ibn Umar ra. meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya mengirim rahmat ke atas mereka yang memakan sahur.

Hadith 6

Abu Hurairah ra. meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa berbuka satu hari di siang hari bulan Ramadhan tanpa alasan yang wajar (disegi syariah) atau sakit yang kuat, tidak akan dapat menampung atau mengganti hari tersebut walaupun akan berpuasa sehingga ke akhir hayatnya.

Sumber : http://www.darulnuman.com/semasa/ramadhan.html

===================================================================================

Pautan: Jangkaan Malam Lailatul-Qadar

===========================================================================

Bersedekah kunci utama pintu rezeki

Oleh Muhammad Abdullah

MEMBIASAKAN sifat bersedekah adalah kunci utama memperluaskan rezeki dari Allah. Semakin banyak wang, harta, ilmu atau khidmat disedekahkan, bertambah bilangan kunci diberikan Allah SWT untuk membuka segala pintu rezeki, sama ada disedari atau datang secara tiba-tiba.

Rezeki Allah SWT bukan saja melalui pemerolehan harta kekayaan, pendapatan melimpah ruah, atau ganjaran berbentuk material saja. Sebaliknya setiap kesusahan yang dipermudahkan, keluasan minda daripada belenggu, ketajaman akal membuahkan idea bernas, ilham bermanfaat juga rezeki yang luar biasa datangnya dari Tuhan.

Daripada Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda yang bermaksud: “Sesiapa yang melepaskan sesuatu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan dunia Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan dari kesusahan hari akhirat dan sesiapa melapangkan seorang yang berada di dalam kesempitan Allah akan melapangkan untuknya di dunia dan di akhirat dan sesiapa yang menutup keburukan saudaranya maka Allah akan menutup keburukannya di dunia dan akhirat dan Allah pasti menolong hamba-Nya selagi mana hambanya menolong saudaranya. Dan sesiapa mengikuti satu jalan untuk mencari ilmu Allah akan memudahkan untuknya jalan ke syurga. Tidak berkumpul satu kaum di dalam rumah dari rumah Allah dan saling belajar dan mengajar antara satu sama lain melainkan turunlah ketenangan atas mereka, rahmat meliputi mereka, para malaikat mengerumuni mereka dan Allah akan menyebut (nama) mereka di sisi-Nya. Dan sesiapa yang kurang amalannya maka nasab (keturunannya) tidak akan dapat menyempurnakannya.” (Hadis riwayat Muslim)

Namun di sudut hati, bisikan halus syaitan sering menakutkan manusia dengan mendekatkan diri kepada amalan bersedekah boleh menghampiri kepada kefakiran atau kepapaan.

Umat Islam tidak perlu khuatir membimbangi kekurangan dan kehabisan wang kelak apabila bersedekah, kerana janji Allah SWT tetap melipatgandakan rezeki si pemberi adalah satu keyakinan yang pasti.

Firman Allah SWT yang bermaksud: “Katakanlah (Wahai Muhammad): “Sesungguhnya tuhanku memewahkan rezeki bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, dan ia juga yang menyempitkan baginya, dan apa sahaja yang kamu dermakan maka Allah akan menggantikannya, dan dialah jua sebaik-baik pemberi rezeki.” (Surah Saba’, ayat 39)

Ganjaran pahala di sisi Allah SWT kepada orang yang bersedekah juga amat besar dan setiap apa yang disedekahkan akan dilipat gandakan pahalanya.
Allah SWT berfirman yang bermaksud: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh pokok, pada tiap-tiap pokok seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah maha luas (kurnia-Nya) lagi maha mengetahui.” (Surah al-Baqarah, ayat 261)

Selain itu, memohon taubat atas dosa silam serta sentiasa banyak beristighfar kepada Allah, boleh membesarkan gerbang rezeki seseorang.

Lafaz istighfar wajar diutamakan dalam kehidupan umat Islam menjelang masa terluang, tidak terbatas kepada waktu ibadat solat fardu saja.

Berdasarkan sunnah Rasulullah SAW yang sering beristighfar memohon ampun dari Allah SWT meskipun Baginda seorang nabi yang bersifat maksum. Apatah lagi kepada kita manusia biasa yang kerap terlanjur dengan dosa dan kesalahan.

Ketakwaan kepada Allah SWT amat diperlukan sebagai asas yang membentuk pertahanan diri dan agama untuk menghindar terdorong melakukan kemungkaran dan apa saja perbuatan tidak diredai Allah

 

Sumber: http://www.bharian.com.my/bharian/articles/Bersedekahkunciutamapinturezeki/Article

MLM ikut syariah bukan taja downline

Oleh Najahudin Lateh

SATU isu yang sering diperkatakan dan dibincangkan melalui neraca muamalat Islam ialah berkaitan perniagaan jualan langsung (MLM). Reka bentuk MLM yang pada asalnya selari dengan syariah sering kali dilencongkan hingga menjadikannya haram.

Ironinya, peserta MLM sama ada syarikat atau ejen pengedar yang membentuk dan memandu sistem pengedaran menjadi tidak menepati hukum Islam. Hal ini boleh dikesan melalui pelan pemasaran, produk, harga, komisyen dan pelbagai elemen lain yang tidak memenuhi kontrak muamalat.
Hakikat yang perlu diakui, MLM ialah instrumen pemasaran terbaik untuk mengedar sesuatu produk atau perkhidmatan kerana pengedar yang dilantik oleh syarikat akan membentuk rangkaian pengedar lain di bawahnya.
Seterusnya mereka akan mendapat bonus, komisen atau insentif hasil daripada jualan peribadi dan rangkaian masing-masing. Daripada aspek kontrak muamalat, MLM biasanya membabitkan kontrak al-Bai (jual-beli) dan al-Ju’alah (upah).

Oleh itu, sistem pemasaran ini sewajarnya menepati semua syarat kontrak seperti produk jualan hendaklah halal, wujud ketika akad dan boleh diserah kepada pembeli. Selain itu, bonus atau komisyen hendaklah diketahui nisbahnya, dimiliki oleh syarikat dan bukan diambil daripada yuran keahlian rantaian yang ditaja pengedar.

Justeru, MLM yang patuh syariah bukannya menjalankan transaksi secara skim piramid yang menghendaki peserta baru membayar yuran dan kemudian bayaran itu diagihkan kepada pemilik skim dan upline.

Objektif utama MLM mengikut syariah adalah menjual produk dan bukannya menaja downline. Keuntungannya daripada keuntungan jualan produk bukan kutipan yuran keahlian.
Ada kala wujud dalam sistem MLM, produk hanyalah replika duplikasi laman web yang boleh menempatkan downline yang ditaja secara automatik. Sasaran sistem itu adalah menaja dan menempatkan rangkaian, bukannya untuk jualan produk.

Walaupun kebanyakan sistem sebegini mempunyai produk dalam laman tetapi ia hanya helah dan tempelan untuk mengesahkan transaksi. Ini boleh dikesan melalui jenama produk yang tidak dikenali, tetapi harganya sangat melampau berbanding produk hampir sama di pasaran.

Pemasaran secara MLM juga jauh daripada syariah apabila wujud elemen pengharaman dalam muamalat Islam seperti riba, judi, gharar (ketidakpastian) dan penipuan serta pemalsuan.

Unsur penipuan boleh dilihat melalui promosi serta gambaran melampau terhadap sesuatu produk sedangkan hakikat kualitinya tidak begitu dan harganya juga jauh lebih tinggi dengan produk setaranya di pasaran.

Kadang-kadang tipu membabitkan pengedar yang ditonjolkan dengan gambar berkereta mewah seolah-oleh syarikat yang menghadiahkan sedangkan syarikat hanya membayar deposit dan bulanannya dibayar pengedar itu sendiri.

Begitu juga gharar boleh berlaku apabila ‘upline’ memperoleh keuntungan daripada jualan ‘downline’ dengan hanya duduk goyang-kaki. Segala usaha jualan dilakukan oleh ‘downline’ tetapi ‘upline’ memperoleh habuan kerana terbabit sebagai penaja.

Justeru, semua perkara itu hendaklah dielakkan bagi menjamin rezeki yang diperoleh halal dan berkat. Sikap berhati-hati dan memilih menurut piawai syarat perlu diutamakan daripada impian dan nafsu kekayaan melimpah ruah.

Penulis ialah Pensyarah di Pusat Pemikiran dan Kefahaman Islam (CITU), Universiti Teknologi MARA (UiTM) Shah Alam

http://www.bharian.com.my/bharian/articles/MLMikutsyariahbukantajadownline/Article (2011/06/13)

Pautan sebelum sertai MLM & “kaya ke infiniti”—> http://aididmuaddib.blogspot.com/

Ilmu Hitam (Sihir – Pukau)

8 beradik putih mata

Oleh Mary Victoria Dass dan Intan Mas Ayu Shahimi
am@hmetro.com.my

2011/05/19

JOHOR BAHRU: Terpedaya dengan muslihat seorang bomoh yang mendakwa mampu mengembalikan harta arwah nenek moyang mereka yang dikatakan bernilai RM2.8 juta, lapan beradik kerugian RM62,285 yang dibayar kononnya sebagai zakat dan kos upacara meraikan ‘mahaguru.’

Mangsa, Nazri Mohd Noor, 40, berkata, bomoh berusia 37 tahun itu licik menipu dia dan tujuh adik-beradiknya yang lain termasuk mengadakan satu ‘demonstrasi’ khas kemampuannya mengembalikan sebahagian daripada harta bernilai RM2.8 juta itu dalam bentuk wang tunai.

“Kami berkenalan dengan lelaki itu melalui seorang rakan pada 27 Mac lalu dan tertarik dengan keistimewaannya, antaranya mampu melihat dan berkomunikasi dengan pemegang amanah alam ghaib.

“Lelaki yang tinggal di Masai itu memberitahu sudah tiba masanya keluarga kami memiliki kekayaan nenek moyang kami yang keseluruhannya bernilai RM2.8 juta dan dia mampu menukar harta itu dalam bentuk wang tunai untuk kami.

“Bagaimanapun, kami terlebih dulu perlu membayar wang ‘zakat’ RM53,000. Selepas berbincang, kami adik-beradik setuju membenarkan lelaki itu mengadakan upacara menzahirkan duit berkenaan di kampung kami di Kelantan, pertengahan April lalu,” katanya kepada Harian Metro.

=========================================================================

Ketagih ganti isteri

Oleh Zaid Salim
am@hmetro.com.my
22 Mei 2010

KUALA TERENGGANU: Dia bukan saja kemaruk berpoligami hingga memiliki 27 anak hasil 11 perkahwinan, malah turut mengamalkan amalan jijik dengan memaksa isteri minum air kencingnya supaya menuruti segala perintahnya, selain amalan menjadikan anak dara sebagai koleksi terbaru teman hidupnya.

Lebih mengejutkan, lelaki berusia 52 tahun yang didakwa memiliki ilmu memikat wanita itu turut bersikap pelik apabila kerap bertukar isteri ketiga dan keempat seperti menukar baju, malah ada antara mereka hanya seminggu bergelar isteri sebelum diceraikan.
Poligami pelik lelaki itu dibongkar bekas isteri keempat lelaki terbabit yang berpisah pada 2005 lalu selepas bergelar isteri tiga tahun.
“Saya berpisah dengannya hanya kerana kesalahan kecil, tetapi tidak pernah menyesal sebaliknya bersyukur kerana bagaikan terlepas mulut buaya.
“Saya akui sejak bersamanya tiga tahun, zahir dan batin saya terseksa selain didera kerana kesalahan kecil,” katanya yang hanya ingin dikenali sebagai Su berusia 27 tahun.
Dia berkata, selama bersama lelaki terbabit, dia bagaikan dipukau kerana tidak berdaya melawan, menegah atau menegur perlakuan dan perangai bekas suaminya termasuk membawa balik wanita lain ke rumah. Katanya, keadaan itu bukan hanya dia mengalaminya, malah tiga madunya turut berdepan keadaan sama.
“Lebih baik bergelar janda daripada terseksa hidup bersama dia,” katanya.
Su yang kini hidup bahagia bersama suami baru mendakwa selain memiliki ilmu memikat wanita, lelaki terbabit mengamalkan amalan jijik apabila memaksa wanita dikahwininya meminum air kencingnya.
“Dia meminta saya melakukan seks oral dan pada masa sama memaksa saya menelan air kencingnya. Selepas berbuat demikian saya seperti dipukau serta apa saja dilakukannya tanpa sebarang bantahan walaupun ada kalanya timbul perasaan marah dan tidak puas hati dengan setiap perbuatannya,” katanya.

Mengimbau kembali pertemuannya dengan lelaki terbabit, Su berkata, dia mula jatuh cinta dan sukar melupakan lelaki terbabit selepas dihembus asap rokok ketika berkunjung ke rumah keluarganya di Kuala Berang pada 2003.
“Ibu bapa saya sudah lama mengenali dia dan setiap kali berkunjung ke rumah, dia melahirkan hasrat untuk melamar saya, namun saya menolak kerana tidak pernah menyintainya yang ketika itu memiliki tiga isteri.
“Walaupun tahu saya tidak sukakannya, namun dia tetap berusaha dan tidak putus asa memujuk dengan apa cara termasuk menggunakan ilmu memikat wanita menggunakan asap rokok,” katanya.
Menurut Su, dia masih ingat apabila lelaki terbabit mengarahkan dia duduk berlawanan angin ketika bersembang di beranda rumah sebelum menghembuskan asap rokok ke arahnya sambil membaca mantera dipercayai ayat memikat wanita.

Katanya, walaupun dia tidak menyimpan perasaan terhadap lelaki yang layak dipanggil ayah itu, namun dia tidak berdaya menolak setiap arahan lelaki terbabit dan menurut apa saja bagaikan dirinya dipukau.
“Selepas terkena hembusan rokok lelaki terbabit, saya menjadi resah dan tidak senang duduk seolah-olah angau apabila tidak dapat melupakan lelaki terbabit sebelum bersetuju menerima lamarannya tiga hari kemudian,” katanya.
Dia berkata, selepas bergelar isteri lelaki terbabit, kehidupannya berubah apatah lagi tinggal berhampiran tiga madunya di sebuah kampung di pinggir bandar raya ini.
Katanya, selepas tiga hari bergelar isteri, dia terkejut dan mengesyaki lelaki terbabit mengamalkan ilmu salah apabila memaksa dia menelan air kencing ketika melakukan seks.
Menurutnya, selain amalan itu, tindakan lelaki terbabit mengadakan hubungan kelamin hanya di rumah isteri ketiga juga dirasakan pelik, malah lebih membingungkan dirinya apabila semua isteri dikehendaki berkumpul di rumah berkenaan sebelum melakukan seks.
“Ketika berkumpul, dia akan memilih seorang isteri yang dia suka untuk melakukan persetubuhan dan bukan mengikut giliran,” katanya.
Menurut Su, selepas berkahwin baru dan memiliki dua anak, dia mengakui kehidupannya kini jauh lebih aman dan bahagia bersama suami yang mempunyai tanggungjawab terhadap keluarga selain menyayanginya sepenuh hati.

sumber~ http://www.hmetro.com.my

==================================================================

Lesap RM200,000 sekali sentuh

Oleh Mohd Jamilul Anbia Md Denin
anbia@hmetro.com.my

GOMBAK: Hanya dengan menyentuh tangan, sekumpulan penjenayah pakar pukau dapat menghilangkan ingatan seorang wanita warga emas untuk melarikan barang kemasnya berjumlah hampir RM200,000.

Sumber polis berkata, penjenayah yang bergerak secara berpasangan berkenaan menggunakan taktik sesat jalan sebelum bertanya mangsa dengan menyentuh tangannya.

Wanita warga emas berusia lewat 50-an itu dihampiri dua lelaki dan dua wanita tidak dikenali berhampiran Taman Daya Kepong, di sini.

Dalam kejadian itu, mangsa berjalan kaki bersendirian untuk pulang ke rumah.

Menurut sumber itu, seorang daripada penjenayah terbabit berpura-pura sesat lalu bertanya arah jalan kepada mangsa.

Bagaimanapun, mangsa enggan melayan pertanyaan itu sebelum cuba meninggalkan suspek yang berusaha mendekatinya.

“Tidak berpuas hati dengan layanan mangsa, suspek berusaha sekali lagi bertanya tetapi sekali lagi tidak diendahkan.

“Penjenayah yang tidak berputus asa bertindak merentap sebelah tangan mangsa secara tiba-tiba menyebabkan mangsa terkejut sebelum tidak sedar apa yang berlaku,” katanya.

Menurutnya, mangsa kemudian diarah pulang ke rumah dan mengambil semua wang dan barang kemas disimpan tanpa sebarang alasan.

Mangsa yang seolah-olah menjadi ‘zombie’ hanya akur dengan perintah penjenayah terbabit sebelum pulang ke rumah dan mengumpulkan semua barang kemas dan wang dimiliki.

Tidak cukup dengan itu, mangsa turut diarah pergi ke bank untuk mengeluarkan wang dan barang kemas yang disimpan sekian lama disimpan dalam peti simpanan deposit.

Selepas itu, mangsa menyerahkan semua wang tunai dan barang kemasnya itu kepada suspek.

“Mangsa hanya tersedar daripada dipukau beberapa minit kemudian dan mendapati semua wang tunai dan harta yang disimpan lesap. Dia membuat laporan di Balai Polis Gombak.

“Siasatan polis yakin keempat-empat suspek yang melakukan jenayah pukau berkenaan adalah warga asing. Justeru, orang ramai dinasihatkan tidak mudah percaya dengan individu tidak dikenali,” katanya.

Sementara itu, Ketua Polis Daerah Gombak, Asisten Komisioner Abdul Rahim Abdullah ketika dihubungi, berkata pihaknya kini sedang menjalankan siasatan untuk mengesan suspek yang dipercayai pernah terbabit dengan beberapa kes penipuan lain.

Kejadian jenayah pukau dikatakan semakin kerap berlaku kebelakangan ini.

Baru-baru ini, akhbar melaporkan seorang suri rumah mendakwa dipukau wanita tidak dikenali hingga menyebabkan mangsa hilang ingatan lalu menyerahkan semua barang berharga secara sukarela.

Dia yang berusia 30 tahun mendakwa ditenung dan ditegur dua wanita yang mendekatinya ketika dalam perjalanan mengambil anaknya pulang dari tadika di Vista Damansara.

Mangsa yang berdiri di kaki lima kedai tiba-tiba dihampiri dua wanita tidak dikenali yang menyapa dari belakang.

Seorang daripada wanita terbabit menegur mangsa sambil bertanya sama ada mengenalinya selain merenung mata mangsa.

Zikir benteng diri

SEREMBAN: Umat Islam perlu menjauhkan diri daripada mengamalkan ilmu hitam atau amalan syirik yang bertentangan seperti pukau kerana amalan itu akan membuatkan kehidupan mereka tidak mendapat keredaan Allah s.w.t.

Sebaliknya, mereka perlu mengamalkan cara hidup Islam yang sebenar termasuk mencari rezeki halal kerana ia akan membawa mereka menikmati kehidupan yang baik bukan saja di dunia ini, malah di akhirat.

Pengerusi Pertubuhan Kebajikan, Ekonomi dan Sosial Islam Malaysia (Pekesim), Ghafar Nin, berkata pukau adalah suatu amalan di kalangan mereka yang mengaku Islam, tetapi tidak mengamalkan cara hidup Islam kerana semata-mata untuk mendapatkan kekayaan.

Beliau berkata, amalan itu perbuatan khurafat yang bertentangan dengan ajaran Islam dan kebanyakan dipelopori masyarakat dari negara jiran untuk mendapatkan kekayaan dengan cara yang tidak diredai Allah.

“Bagaimanapun, apa yang menyedihkan sekarang apabila amalan itu diikuti segelintir umat Islam di negara ini hanya semata-mata untuk mendapatkan kekayaaan segera tanpa mempedulikan hukum agama yang menegah melakukan amalan seperti itu.

“Ini kerana pukau adalah perbuatan jahat dan pengamalnya bersubahat dengan syaitan untuk menganiayai orang lain yang tidak berdosa,” katanya.

Beliau mengulas laporan Harian Metro, semalam mengenai aktiviti pukau berdarah yang apabila tujuh wanita dikatakan menjadi mangsa individu tidak bertanggungjawab itu.

Ghafar berkata, pihaknya kesal dengan kejadian itu kerana ketika ini ramai umat Islam mengaku dirinya Islam, tetapi tidak mengamalkan cara hidup Islam sebenar.

“Inilah yang menyebabkan imej Islam itu tercemar kerana segelintir individu yang bertindak berdasarkan hawa nafsu dan sanggup melanggar hukum Tuhan semata-mata untuk kepentingan diri,” katanya.

Beliau menasihatkan umat Islam supaya memiliki benteng diri masing-masing dengan mengamalkan zikir kerana mereka yang sering kali menjadi mangsa pukau adalah kalangan yang jauh daripada amalan Islam termasuk mengabaikan solat.

sumber: http://www.hmetro.com.my